Kresna Kembang (Danardana Maling)

By Muhammad Andi 03 Agu 2019, 16:15:07 WIB Sejarah Wayang
Kresna Kembang (Danardana Maling)

Keterangan Gambar : Dewi Rukmini di Candi Dewi Durga


Salam semua, semoga diberi kelimpahan rahmat Tuhan. Kali ini, penulis akan menceritakan kisah cinta Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini yang berujung peristiwa kawin lari. Dikisahkan pula bagaimana Prabu Supala yang dahulu disembuhkan Prabu Kresna menjadi musuh abadi. Kisah ini disusun mengikuti versi India namun tidak meninggalkan ke-khas-an pedalangan Jawa. Sumber yang digunakan penulis berasal dari Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Kitab Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita, kakawin Hariwangsa karya Mpu Panuluh, dan Serial kolosal India Mahabharat Starplus dengan sedikit perubahan dan pengembangan seperlunya.
Dikisahkan bahwa pada zaman kuno, Batara Wisnu sudah beberapa kali menitis ke Marcapada. Pada penitisan pertama, Batara Wisnu berubah menjadi penyu raksasa untuk menopang gunung Mahameru saat para dewa dan bangsa ashura mengaduk Laut Kidul untuk mencari Tirta Amerta. Di penitisan kedua, Batara Wisnu turun ke bumi menitis pada raja di Purwacarita bergelar Prabu Makukuhan. Sepeninggal Prabu Makukuhan, Batara Wisnu dalam bentuk manusia setengah babi hutan bernama Waraha dan Batara Brahma dalam wujud angsa menghabisi Ditya Hiranyaksa, pangeran Alengka yang hendak menenggelamkan Marcapada ke dalam lubang hitam. Setelah Marcapada selamat dari lubang hitam, muncul masalah lagi. Prabu Hiranyakasipu, kakak Hiranyaksa, mendapat kesaktian tak bisa dibunuh apapun dan siapapun. Kesaktiannya ini digunakan untuk menaklukan negeri lain dan hendak menghancurkan pulau Jawa. Batara Wisnu tak tinggal diam. Dia turun sekali lagi ke Marcapada menjadi manusia berkepala harimau bernama Narasingha dan berhasil membunuh Hiranyakasipu. Yang kelima, Batara Wisnu lahir kembali menjadi Jaka Wamana, seorang pendeta cebol, putra Dewi Aditi dan Maharesi Kasyapa untuk menyadarkan Maharaja Bali. Di zaman berikutnya, Batara Wisnu menitis pada dua orang, Prabu Harjunasasrabahu, raja Mahespati dan Begawan Ramabargawa (Parasurama) dari Padepokan Dewashana. Setelah sepeninggal Harjunasasrabahu dan setelah Ramabargawa menjadi dewa, Batara Wisnu menitis lagi pada Sri Ramawijaya, sedangkan Dewi Sri Laksmi (Sri Widowati) menitis pada Dewi Sinta. Beratus-ratus tahun kemudian, dari percampuran keturunan Wangsa Yadawa dan Wangsa Baharata, Batara Wisnu menitis kembali sebagai Nara-Narayan menjadi Kresna (Narayana), anak Basudewa dan Arjuna (Permadi), anak Pandu Dewanata. Sementara Sri Laksmi menitis menjadi Sumbadra, adik Kresna. Di penitisan kali ini, selain kepada Sumbadra, Dewi Sri Laksmi juga menitis belah menjadi empat wanita lainya. Pertama Dewi Jembawati, putri Resi Jembawan. Yang kedua pada Dewi Rukmini, putri bungsu Prabu Bismaka (Harya Prabu Rukma), yang ketiga pada Dewi Setyaboma, putri sulung Prabu Setyajid (Ugrasena) dan yang keempat kepada Dewi Radha, putri Lurah Wresabanu dan Nyai Kirtidha dari Warsana, penggembala lembu terkenal dari Widarakandang.
Pada suatu hari, di kerajaan Kumbinapuri, Prabu Bismaka di hadap putra sulungnya, yaitu Arya Rukmana sedang dirundung masalah karena kedatangan Prabu Supala dari Cedi dan Resi Dorna dari Hastinapura yang ingin melamar Dewi Rukmini. Namun Dewi Rukmini masih mikir-mikir dulu siapa yang ingin dinikahinya. Lalu Arya Rukmana memberikan usulnya “Ayahanda, aku punya usul. Kita jadikan ini sebagai sayembara. Siapa yang bisa mengalahkan aku, maka dialah yang berhak menikahi rayi dewi.” “aku tidak setuju, kakang Rukmana. Aku sudah memikirkan sayembara apa yang cocok. Siapa yang bisa menebak ‘sejatinya pria, sejatinya wanita’ dia yang bisa menikahiku” potong Dewi Rukmini. Sebenarnya Rukmini jatuh cinta pada Prabu Kresna, sepupunya sendiri. Namun nampaknya, kakaknya itu tak suka pada Kresna. Jadi dia ingin membuat sayembara sendiri. Kedua kakak-beradik itu terus bersilang pendapat. Akhirnya Prabu Bismaka memberikan keputusannya “cukup, anak-anakku. Karena kalian berdua ingin pendapat kalian diambil, aku akan membuat dua sayembara sekaligus. Siapapun yang bisa melawan Rukmana dan mampu menebak ‘sejatinya pria, sejatinya wanita’, dia yang berhak menikahimu, Rukmini.” Segera saja, undangan sayembara disebarkan ke seluruh negeri dan negeri tetangga oleh Arya Rukmana. Hanya Kerajaan Dwarawati yang tidak diberi undangan. Benar saja, Arya Rukmana memang tak suka bahakan sangat benci pada Kresna karena menurut penilaiannya, kelakuan Prabu Kresna di masa lalu bagai begundal yang suka merampok dan membegal, tak pernah berperilaku yang mencerminkan seorang pangeran atau raja, bahkan menikahi Dewi Radha yang jelas sudah bersuamikan Arya Yadawa sehingga menurutnya, Prabu Kresna tak pantas bersanding dengan adiknya.
Sementara itu, Prabu Kresna di Dwarawati dikunjungi Permadi dan para Punakawan. Setelah beramah tamah, Raden Permadi membicarakan tentang Dewi Rukmini. Prabu Kresna seketika teringat tentang keinginan Dewi Jembawati dan Dewi Radha yang ingin dimadu. Lalu Prabu Kresna ingin bertandang ke Kumbina untuk mewujudkan impian kedua isterinya itu. Raden Permadi dan para punakawan ikut menyertai. Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di negara Kumbinapuri. Mereka melihat keramaian di kotaraja “kakang Madawa, lihat ada ramai-ramai di kotaraja. Sepertinya akan diadakan acara besar.” “Benar, Parta. Ayo kita ke sana tapi kita harus menyamar.” Singkat cerita,  Prabu Kresna kmudian menyamar menjadi tukang roti bernama Danardana, Permadi menjadi penari perempuan bernama Wrehanala. Sementara ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menjadi penabuh gamelan.
 Sesampainya di kotaraja, Danardana melihat adanya persiapan sayembara. Danardana kaget bahwa ada sayembara dan dia tak diundang. Akhirnya Danardana masuk ke situ dan menawarkan roti pada Prabu Bismaka. Prabu Bismaka berkenan dengan rotinya dan mempersilakan roti buatannya dihadirkan sebagai jamuan. Disana, telah diundang Prabu Baladewa dari Mandura, Prabu Setyajid dan Arya Setyaki dai Lesanpura. Prabu Yudhistira dan Arya Bratasena dari Amarta. Dipihak Resi Dorna, datang Prabu Anom Suyudana, Patih arya Sengkuni, Arya Dursasana, Arya Kartamarma, Bambang Aswatama dan beberapa Kurawa lainnya. Sayembarapun digelar. Baik Resi Dorna maupun Prabu Supala berhasil mengalahkan Arya Rukmana yang sombong lalu kini tiba menjawab pertanyaan dari Dewi Rukmini. Prabu Supala menjawab “Dinda Rukmini, sejatinya pria itu kuat dan sejatinya wanita itu lembut. Perempuan itu penuh sifat lembut dan pria itu harus menjadi pelindung bagi si lembut.” Dewi Rukmini sebenarnya tak berkenan dengan jawaban Prabu Supala tapi ditahannya. Dewi Rukmini segera mempersilahkan Resi Dorna untuk maju. Sebelum menjawab pertanyaan, Resi Dorna berkata “nak Rukmini, kehadiranku ikut sayembara hanya mewakili Prabu anom Suyudana tapi aku akan menjawab pertanyaan itu semampuku. Menurut hemat saya, pria sejati itu mengayomi, memenuhi nafkah lahir batin, dan mampu menentramkan si perempuan. Sedangkan wanita sejati itu tak hanya cantik lahiriah tapi juga cantik batiniyah. Maksudnya, wanita itu jangan hanya bermodal kan ayunya rupa, kemolekan tubuh, dan genitnya tingkah tetapi juga memupuk sifat baik, ikhlas dalam keadaan susah dan senang bersama pasangan, dan kesabaran.” Dewi Rukmini masih ragu-ragu akan dua jawaban itu dan meminta sang ayah untuk menghentikan sementara sayembara. Dia ingin ke candi Dewi Durga untuk merenung sejenak. 
Dewi Rukmini merenung di candi Dewi Durga
Karena ini permintaan dari putrinya, akhirnya Prabu Bismaka akhirnya menghentikan sementara sayembara. Tetamu dan peserta sayembara disilakan untuk menikmati jamuan dan pertunjukan yang sudah digelar. Kresna yang masih menyamar menjadi tukang roti secara diam-diam segera mengikuti Dewi Rukmini.
Sementara itu, Wrehanala diperintahkan Arya Rukmana untuk menghibur tetamu undangan dan peserta sayembara. Para punakawan yang menjadi penabuh gamelan memainkan musik dengan sangat merdunya. Meskipun dikenal sebagai ksatria yang mahir menggunakan senjata, Permadi sebagai Wrehanala juga pandai dan jago dalam menari. Gerakannya sangatlah lemah gemulai mengikuti alunan musik. Hingga pada suatu gerakan, seekor nyamuk hinggap di badan Wrehanala. Dengan sambil menari, dia berusaha menepuk nyamuk itu. Berkali-kali ditepuk, nyamuk itu tetap bisa lolos. Lalu nyamuk itu hinggap dan masuk ke lubang hidungnya. Tak ayal, hidung Wrehanala gatal dan dia pun bersin. Tanpa disangka-sangka, rambut palsu yang dipakai Wrehanala terlepas dan samarannya terbongkar. Wrehanala badar kembali menjadi Permadi. Arya Rukmana marah “hei, kau rupanya Permadi, Pandawa antek-antek Kresna. Apa yang kau lakukan disini?” Permadi dan para punakawan pun dibela oleh Arya Bratasena dan Prabu Yudhistira. Tanpa disangka-sangka pula, terdengar bunyi teriakan menggelegar dan barang rusak dari arah keraton. Rupanya di kejauhan ada raksasa besar dan raksasa itu membawa lari Dewi Rukmini dari candi Dewi Durga. Patih arya Sengkuni segera memanas-manasi Arya Rukmana”Pangeran Rukmana, sepertinya itu makhluk yang di bawa oleh Permadi. Kita cukup tahu kalau Permadi itu sakti dan berteman dengan berbagai makhluk bahkan raksasa.” Arya Rukmana terprovokasi dan menyuruh Permadi untuk membawa makhluk yang menjadi raksasa itu. Permadi yang tak terima dengan provokasi Rukmana segera mengejar raksasa itu.
Dengan ajian Sepi Angin, Raden Permadi berhasil menyusul si raksasa. Dewi Rukmini kemudian diturunkan dengan lembut oleh raksasa dan raksasa itumemberikannya sekuntum bunga melati kepadanya “Rukmini, bersembunyilah dan bawa sekuntum bunga melati ini. Dia akan menjadi penjagamu.” Setelah berkata demikian, bunga melati itu berubah menjadi Prabu Kresna palsu. Demikianlah, Prabu Kresna jelmaan bunga melati membawa Dewi Rukmini sembunyi. Tanpa dikira-kira, Arya Rukmana yang membuntuti Permadi melihat adiknya bersama Kresna. Lalu diseretnya Prabu Kresna itu. Dewi Rukmini terkejut dan meminta untuk melepaskan kekasihnya itu namun tak digubris. Dihadapan adiknya itu, Arya Rukmana menghajar Prabu Kresna lalu memanah tubuh Prabu Kresna sampai tewas. Dewi Rukmini berlari sambil menangis menyusul si raksasa. Di saat bersamaan Prabu Baladewa melihat tubuh adiknya tewas di tangan Rukmana. Dia marah besar dan berniat membunuh sepupunya itu. Karena ketakutan, Arya Rukmana lari dan menyusul adiknya.
Sementara itu, Permadi terus menyerang si raksasa secara membabi buta. Raksasa itu mulai kewalahan dan berubah menjadi Maha Brahalasewu, bentuk triwikrama Batara Wisnu yang sangat menakutkan.
Maha Wisnurupa-Maha Brahalasewu
 Permadi menjadi ketakutan dan tiba-tiba berubah menjadi Maha Wisnurupa, bentuk dewata agung dari Batara Wisnu. Prabu Yudhistira yang melihat dari kejauhan melihat dua wujud Batara Wisnu, yang satu berwujud dewa dan yang satu lagi bentuk triwikramanya. Prabu Yudhistira secara spontan berlari lalu tanpa sengaja tangannya meraba Kalung Robyong Mustikawarih di lehernya dan berubah menjadi raksasa putih. Raksasa putih yang telah disusupi Batara Dharma itu berusaha melerai “Hentikan, Wisnu. Sesama titisan Wisnu janganlah bertengkar karena provokasi dan wanita, berdamailah.” Setelah itu ketiga wujud kebesaran itu kembali ke keadaan semula. Raksasa putih kembali menjadi Yudhistira. Maha Wisnurupa kembali menjadi Permadi, dan Maha Brahalasewu kembali menjadi Prabu Kresna. Dewi Rukmini yang ada di situ memeluk Prabu Kresna. Tak disangka, Arya Rukmana yang mengejar adiknya itu terkejut bukan kepalang karena mengira Kresna telah mati bisa hidup lagi. Merasa dipermainkan, Arya Rukmana kembali marah, lalu mengumpat dan memaki “ Hei, Kresna. Kau titisan Wisnu tapi kelakuanmu bagai maling. Kau bahkan lebih hina dari maling atau pezina. Kau rebut adikku yang sudah disayembara....” Arya Rukmana berniat menyerang Prabu Kresna lagi. Prabu Kresna yang marah atas penghinaan Rukmana mengeluarkan Cakra Widaksana dan melemparkannya ke arah Rukmana. Di saat yang sama Baladewa yang marah pada Rukmana mengeluarkan tombak Nanggala dan melemparkannya juga ke arah Rukmana. Alhasil bagian kepala Rukmana yang terkena Cakra Widaksana menjadi pitak dan tubuh Rukmana hampir semuanya gosong terbakar terkena tombak Nanggala. Rukmana menjadi koma karenanya. Dewi Rukmini memohon pada kekasihnya untuk mengampuni dan menghidupkan lagi kakaknya “kakang Kresna tolong ampuni kakakku. Ayah hanya punya satu anak lelaki. Nasib kelangsungan takhta Kumbina bergantung pada kakak.” Prabu Kresna tergerak hatinya. Kemarahannya mulai mereda dan memaklumi Rukmini lalu berkata “baik , Dinda Rukmini aku akan memaafkan kakakmu.” Prabu Kresna meraba riasan bulu meraknya dan keluarlah Cangkok Wijayakusuma.
Arya Rukmana menuai karma karena menghina titisan Wisnu.
 Setelah bunga ajaib itu dibasahi air, lalu bunga yang masih berair itu dikipat-kipatkan ke seluruh tubuh Rukmana. Berkat percikan air cangkok Wijayakusuma, Rukmana hidup kembali. Rukmana menyadari kesalahannya kemudian menghormat pada Prabu Kresna “maafkan aku, Kresna. Aku telah menghinamu. Kau telah membuka mata dan hatiku yang tertutup kesombongan. Karena kau sudah berhasil mengalahkan aku, aku menyetujui hubunganmu dengan Rukmini, adikku tercinta.” Prabu Kresna dan Prabu Baladewa memaafkan Arya Rukmana. Mereka pun berbaikan.
Lalu mereka semua kembali ke alun-alun. Prabu Bismaka bahagia putrinya telah kembali. Atas keinginan dari Prabu Bismaka, Prabu Kresna diizinkan ikut sayembara oleh pamannya itu. Prabu Kresna kemudian menjawab pertanyaan siapakah sejatinya pria, sejatinya wanita.”sejatinya pria dan wanita adalah pasangan hidup, kawan hidup. Mereka saling melengkpi. Pria tak bisa berada diatas wanita. Wanita juga tak bisa berada di bawah pria. Terdapat sebuah kisah dimana pria sekaligus manusia permata diciptakan dari tanah oleh Sanghyang Widhi lalu setelah itu wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Makna dari kisah ini adalah wanita diciptakan sebagai kawan yang diperlakukan dengan lembut naman tegas, bukan diperlakukan sebagai majikan apalagi budak para pria. Sejatinya derajat, tanggung jawab, hak dan kewajiban antara pria dan wanita pada dasarnya sama. Pelayanan juga diantara keduanya haruslah sinkron dua arah. Kedua belah pihak sama- sama mendapatkan hak sekaligus kewajiban masing-masing. Demikianlah pada dasarnya, sejatinya pria dan wanita adalah komplementer, diciptakan berbeda dan sama-sama tak sempurna, namun ditakdirkan bisa saling melengkapi sehingga sebuah terbentuklah kerjasama yang indah berupa terjalinlah kasih dan sayang, kehidupan yang selaras, harmoni, dan berimbang. Setiap manusia yang tahu hakikat ini, maka mereka akan menemukan kebahagian yang sejati.”
Jawaban dari Prabu Kresna membuat Prabu Bismaka dan hadirin menjadi terharu. Dewi Rukmini telah menetapkan pada siapa dia akan memilih. Dewi Rukmini memilih Prabu Kresna lalu mengalungkan puspamala di lehernya. Tepuk tangan membahana memuji Prabu Kresna. Prabu Supala yang gagal mendapatkan Dewi Rukmini menjadi kesal lalu menghasut Prabu Anom Suyudana dan Patih Arya Sengkuni untuk menyerang mereka saat hari pernikahan mereka. Hari itu para Kurawa, Resi Dorna, dan Prabu Supala pura-pura mohon diri untuk kembali.
Beberapa hari kemudian, pernikahan diselenggarakan. Di pelaminan, Prabu Kresna bersanding dengan tiga istrinya, Dewi Radha, Dewi Jembawati dan Dewi Rukmini. Dewi Jembawati senang sekali karena suaminya bisa mengabulkan keinginannya untuk dimadu. Namun di suasana bahagia itu ada gangguan. Prabu Supala dan para Kurawa menyerang mereka sebagai bentuk kekecewaan mereka. Di saat seperti itu, Arya Setyaki dan Arya Bratasena segera turun tangan. Tak butuh berapa lama, Prabu Supala dan para Kurawa berhasil dikalahkan. Namun sebelum kemabli diri negara Cedi, Prabu Supala bersumpah serapah “Hei, Kresna. Kau manusia tak berbudi. Dasar maling, pezina, penyihir!. Mulai saat ini kita musuh abadi!” Prabu Baladewa hendak membunuh Prabu Supala namun dicegah oleh adiknya yang sedang berbahagia itu. Setelah pesta selesai, Prabu Kresna memboyong tigaistrinya itu itu ke Dwarawati.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment